Penggolongan Obat berdasarkan Fungsi dan 5 Jenisnya

Penggolongan obat berdasarkan jenisnya
Penggolongan obat berdasarkan jenisnya

Penggolongan obat dilakukan agar masyarakat dapat mengenali dan membedakan obat-obatan yang beredar di pasaran. Ada beberapa jenis obat-obatan yang tidak boleh dijual dan digunakan oleh masyarakat. Bahkan ada jenis obat-obatan yang dilarang penjualannya oleh pemerintah.

Demi menghindari dampak penggunaan yang buruk terhadap obat-obatan, pemerintah melakukan penggolongan obat tersebut. Penggolongan obat berdasarkan jenisnya, penggunaan dan efek dari obat tersebut serta tata cara penjualannya di pasaran.

Penggolongan obat ini diatur di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 917/Menkes/Per/X /1993.

Oleh karena itu, sebelum menggunakan suatu obat, kamu wajib mengetahui obat tersebut termasuk ke dalam golongan yang mana. Berikut ini penggolongan obat yang harus kamu ketahui dan pelajari.

Obat Bebas

contoh obat bebas
contoh obat bebas

Seperti namanya, obat bebas merupakan obat yang benar-benar bisa kamu dapatkan dengan bebas. Obat jenis ini disebut juga dengan OTC (Over The Conter). Kamu bisa mendapatkan obat ini di apotik, toko obat, atau di warung-warung yang menjual obat. Obat bebas bisa didapatkan meskipun tidak memiliki resep dokter.

Obat bebas mengandung zat adiktif yang tidak berbahaya atau relatif aman serta efek samping yang rendah. Jika kamu mengonsumsi obat ini dalam dosis yang dianjurkan dan dengan petunjuk yang diberikan, maka  kamu tidak perlu petunjuk dan pengawasan dokter dalam menggunakan obat jenis ini.

Kamu bisa menemukan obat ini dengan melihat tanda yang tertera di kemasan obat. Obat bebas memiliki tanda berupa lingkaran berwarna hijau dengan garis pinggir berwarna hitam tebal.

Obat bebas umumnya diproduksi untuk mengobati penyakit-penyakit yang ringan. Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat bebas adalah flu, sakit kepala, batuk, dan maag. Beberapa jenis suplemen dan multivitamin juga termasuk ke dalam golongan obat bebas.

Contoh obat bebas yang dapat kamu temukan dengan mudah di pasaran adalah parasetamol, promag, sangobion, dan bodrex.

Obat Bebas Terbatas

penggolongan obat menurut undang-undang
penggolongan obat menurut undang-undang-obat bebas terbatas

Obat bebas terbatas merupakan jenis obat keras, namun bisa kamu dapatkan dengan cukup mudah di apotek atau toko obat. Kamu bisa membeli obat jenis ini tanpa harus memiliki resep dokter. Namun, penggunaannya harus tetap memperhatikan petunjuk yang sudah diberikan.

Sebelumnya, obat bebas terbatas ini disebut dengan daftar W. W berarti “Waarschuwing” dalam bahasa Belanda yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “peringatan.” Hal ini karena obat jenis ini cukup berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai petunjuk yang ada.

Cara mengenali obat bebas terbatas adalah dengan melihat pada kemasan obat. Kamu akan menemukan lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam. Selain itu, akan ditemukan juga beberapa peringatan pada kemasan obat.

Contoh peringatan ini adalah “Awas obat keras! Hanya untuk dibakar” atau “Awas obat keras! Hanya untuk penggunaan di bagian luar tubuh.” Contoh obat bebas terbatas adalah procold, antimo, neozep forte, dan paramex.

Obat Wajib Apotik

Obat wajib apotik merupakan obat keras yang penjualannya diserahkan kepada apoteker. Jadi, kamu dapat membeli obat ini tanpa harus menggunakan resep dokter. Apoteker dapat mempertimbangkan untuk memberikan obat ini kepadamu atau tidak.

Beberapa contoh obat yang termasuk obat wajib apotik adalah obat oral kontrasepsi (obat KB), obat untuk saluran pencernaan seperti antasid, obat mulut dan tenggorokan seperti Methampyrone, dan berbagai jenis obat lainnya. Namun, beberapa jenis obat wajib apotik ada yang membutuhkan resep dokter untuk pemakaian pertama, seperti obat oral kontrasepsi.

Menteri Kesehatan sudah mengatur ketentuan dan batasan yang bisa diberikan apoteker kepada pasien yang membeli obat wajib apotik. Jadi, apoteker tidak bisa sembarangan memberikan obat wajib apotik kepada masing-masing pasien. Sebagai contoh, obat saluran cerna bisa diberikan kepada pasien maksimal 20 tablet dalam satu kali pembelian. Pasien juga dianjurkan untuk melakukan kontrol ke dokter setiap 6 bulan selama penggunaan obat tersebut.

Apoteker yang memberikan obat wajib membuat catatan pasien yang diberi obat dan jenis obat yang diserahkan. Selain itu, pasien wajib mendapatkan dosis dan aturan pakai obat wajib apotik, kontraindikasi obat tersebut, efek samping, serta hal lainnya yang perlu diperhatikan oleh pasien.

Obat Keras

penggolongan obat berdasarkan jenisnya
penggolongan obat berdasarkan jenisnya-obat keras

Sebelum adanya aturan terbaru dari Kementerian Kesehatan, obat keras digolongkan sebagai obat G atau “Gevarlijk.” Hal ini berarti bahwa obat ini termasuk obat yang berbahaya. Penggunaan obat golongan G harus menggunakan resep dokter karena tidak bisa digunakan secara sembarangan. Penggunaan yang salah bisa membuat penyakit semakin parah, menjadi racun bagi tubuh, hingga menyebabkan kematian.

Ketika kamu ingin membeli obat keras di apotik, kamu haruslah membawa resep dokter yang menyatakan kamu bisa membeli obat ini. Apoteker tidak akan memberi obat tersebut tanpa adanya resep dokter.

Obat keras dapat dibedakan dari kemasan obat tersebut. Pada obat keras, kamu bisa menemukan lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. Di dalam lingkaran tersebut terdapat huruf K yang menandakan “Keras.”

Beberapa contoh obat yang termasuk obat keras adalah tramadol, larotadine, Amitriptyline, dan asam mefenamat.

Psikotropika dan Narkotika

penggolongan obat berdasarkan fungsinya
penggolongan obat berdasarkan fungsinya-narkotika

Psikotropika merupakan zat atau obat yang bisa terbuat dari bahan alami atau sintesis yang tidak termasuk ke dalam golongan narkotika. Obat ini memberikan khasiat psikoaktif dengan cara mempengaruhi susunan saraf pusat. Dampak penggunaan obat ini akan menyebabkan perubahan khas pada mental dan perilaku.

Sedangkan narkotika merupakan zat atau obat yang dapat berkhasiat menurunkan atau mengubah kesadaran, menyebabkan hilangnya rasa, mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri, serta menyebabkan ketergantungan. Obat ini dapat berasal dari tanaman atau bukan tanaman. Bahan bukan tanaman yang digunakan untuk membuat narkotika bisa berupa bahan sintesis atau semisintesis.

Kini, penggolongan obat menurut undang-undang mengubah daftar obat yang termasuk ke dalam narkotika dan psikotropika. Obat yang termasuk psikotropika setelah keluarnya UU No 35 Tahun 2009 adalah sabu-sabu dan ekstasi. Sedangkan, contoh narkotika adalah opium dan kokain.